Ratu Kecil
Di suatu kerajaan, hiduplah seorang putri. Putri itu hidup di istana yang begitu indah.
Dia hidup bersama raja, ratu, dan dua putri lainnya. Hidupnya memang bergelimang harta, tak pernah kekurangan apapun, bisa mendapat apapun yang diinginkan. Bahkan dengan menjentikkan jari emas, permata, berlian, dan semua barang mewah akan langsung dipersembahkan di bawah kakinya.
Tetapi, seperti manusia lainnya. Masih ada yang kurang dalam hidupnya. Ada hal yang tidak bisa ia miliki.
Kebebasan.
Mungkin, hal ini terdengar sepele. Tapi, bagi sang putri, hal tersebut adalah suatu kemewahan yang tak ternilai. Begitu sulit untuk di raih. Memang, hidupnya tidak kekurangan dan sangat nyaman. Memiliki tempat untuk berteduh, beristirahat, dan tidak pernah kelaparan. Namun, kebebasan yang remeh itu tak pernah ia miliki.
Hidupnya selalu diatur oleh sang raja dan ratu. Ia harus mengikuti seluruh aturan istana yang begitu menyesakkan. Ia harus bersaing dengan putri lainnya, agar mendapatkan perhatian raja dan ratu. Karna mereka bertiga adalah seorang putri, tidak ada kebebasan bagi mereka. Mungkin dua putri lainnya merasakan hal yang sama, mungkin juga tidak.
Tapi yang dirasakan oleh sang putri ini, ia menjadi cadangan dari dua putri lainnya. Mereka mungkin merasa sang putri sudah mandiri dan bisa menjadi contoh bagi putri lainnya.
Setiap kali, putri-putri itu selalu dibandingkan, di kekang, tidak boleh membantah, tidak diberi kesempatan berbicara, tidak diberi kepercayaan. Meski kehormatan dan kekayaan mereka berikan. Semua itu hanyalah ilusi.
Sang putri harus mencari jalannya sendiri, raja dan ratu tidak pernah memberikannya hal itu. Sang putri harus mencarinya di luar, tapi mereka menahannya. Sayapnya mereka patahkan sebelum ia bisa terbang. Mereka memaksanya terbang dengan sayap patah itu.
Membuat semua rasa percaya dirinya hilang, membuatnya tertutup, membuatnya tidak pernah bisa percaya lagi pada siapapun. Mungkin orang-orang akan bilang, semua itu hanyalah hal mudah, tinggal ikuti saja, enak, lemah sekali. Tapi, mereka hanya melihat di luar, mereka tidak pernah melihat dan merasakan di dalam.
Tidak semua hal yang terlihat cantik diluar terlihat cantik di dalam.
Meski ia selalu mengikuti aturan, tata tertib, kemauan mereka, semuanya tetap kurang dan tidak berharga. Semua hal yang dipilihnya terasa salah di mata mereka, putri itu selalu merasa terlalu jelek diantara kedua putri lainnya, terlalu bodoh, terlalu pemalu, dan terlalu tidak bisa diandalkan.
Ternyata, sang putri mulai berpikir. Semuanya akan salah dan kurang di mata sang raja dan ratu, menjadi putri yang penurut saja tidaklah cukup. Raja dan ratu hanya menginginkan putri yang bisa bersinar di dunia luar, putri yang hebat, tanpa cela, dan menawan, seperti sang ratu.
Putri itu terkadang kagum dan benci pada sang ratu, ia selalu ingin seperti ratu yang begitu hebat memimpin rakyat, dipercaya oleh semua orang, pintar, memiliki banyak pengetahuan dan keberanian.
Putri itu selalu menganggap jika ia sudah mandiri, sudah mulai berani, tidak takut apapun, dan bisa melangkah bebas. Tapi sayang, ternyata ia hanyalah putri kecil. Putri lemah yang tidak bisa melebarkan sayapnya. Putri lemah yang tidak bisa terbang karna terantai. Putri lemah yang memiliki impian besar yang tak pernah bisa ia raih.
Putri itu hanya bisa merenung di kamar dengan buku-buku di tangan. Ia hanya bisa menghidupkan impian lewat tulisan, ia tidak bisa pergi.
Ia hanyalah putri yang terjebak di rumah kaca yang terlihat mewah di luar, tapi hancur di dalam.

Komentar
Posting Komentar