Perjalanan Antariksa: Siapa Dia? (Part 2)
Seorang anak keluar dari pintu dengan pakaian aneh berwarna putih. Disebelahnya seperti terlihat sebuah hewan terbang.
Hewan itu kecil tapi seperti kucing, dan ada sayap di punggung nya.
Hewan apa?
Anak itu mendekati mereka dengan pelan dan waspada.
Iyan dan yang lainnya mundur sampai menyentuh dinding jendela.
"T-Tunggu! K-Kami b-bukan orang jahat!" ucap Iyan terbata-bata. Meski tubuhnya gemetaran, dia berusaha mencoba bicara agar tidak salah paham.
"K-Kami orang baik! Kami gatau kenapa kami bisa disini!" ucap Iyan lagi.
Tapi, anak itu tetap melihat mereka dengan curiga.
"Benarkah? Trus kenapa kalian bisa masuk ke pesawat ku kalo kalian orang baik? Pasti kalian pembajak angkasa kan! Ayo ngaku." ucap anak itu cepat.
"Beneran! Kami ga tau apa-apa! Tadi kami lagi baca buku, trus tiba-tiba kami udah disini!" ucap Kastel.
"Bohong! Kalian pasti pura-pura aja, trus nanti waktu aku udah percaya kalian bakalan nyerang aku
kan! Ayo ngaku kalian dari mana! Mau apa kalian kesini!" ucap orang itu lagi dengan menunjuk Iyan dan kawan-kawan.
"Mending kita langsung kurung mereka, sebelum mereka kabur, dan nanti kita serahin mereka ke polisi angkasa!" tiba-tiba hewan terbang itu berbicara.
"Eh! Kok hewan itu bisa ngomong! Hahahahahaha... ini pasti mimpi fiks!" ucap Suya senang sambil mengguncang tubuh Kastel dengan cepat saat mendengar hewan terbang itu berbicara.
"Hei! Ini bukan mimpi! Aku ini hewan agung dari planet Hempshire! Masa kamu ga kenal hewan agung seperti ku! Cuman ada 1000 dari jutaan manusia di planet Hempshire! Cuman orang hebat yang bisa berkawan dengan kami! Kamu harusnya hormat dong!" Teriak hewan kecil itu dipenuhi amarah.
"Hempshire? Planet apa itu?" tanya Iyan tiba-tiba berbicara di tengah perdebatan Suya dan hewan itu, "Bukannya planet kita itu planet Mibu yah? kok Hempshire, dimana itu?" ucapnya dengan tidak mengerti.
"Mibu? Planet apa itu? Tidak ada planet Mibu di Galaxy Novalis ini. Hanya ada 5 planet disini dan tidak ada yang bernama Mibu." ucap anak itu menjawab pertanyaan Iyan.
Iyan, Kastel, dan Suya pun saling berpandangan. Mereka diam seperti sedang berpikir. Disisi satunya, anak itu dengan hewan agungnya mulai bersiap-siap menangkap Iyan dan teman-temannya.
"Ayo! Jangan biarkan mereka membuat kita lengah! Tangkap mereka sekarang!" ucap Anak itu sambil berlari menuju mereka bertiga.
Bak
Buk
Bak
Buk
Iyan, Kastel, dan Suya berhasil mereka ikat. Sekarang mereka bertiga diikat akan di interogerasi oleh anak itu.
Anak itu duduk di kursi dan melihat mereka dari depan.
"Sekarang, cepat, sebutkan siapa nama, tujuan. Kalo kalian jujur mungkin aku akan melepaskan kalian." ucap anak itu mulai dengan interogerasinya.
"Eh, kamu ga boleh lepasin mereka gitu aja dong! Nanti kalo mereka kabur, trus bawa teman-teman mereka, trus kita di serang gimana dong." ucap si hewan agung itu.
Anak disampingnya hanya diam dan mendengarkan. Seakan menunggu Iyan dan teman-temannya berbicara.
'Duh... harus bilang apa coba... tiba-tiba ditangkap gini, padahal kita ga tau juga bisa kesini.' ucap suara Iyan di dalam hati.
"Ayo! Cepat bicara!" teriak anak itu tiba-tiba membuat mereka bertiga tersentak kaget.
"Ah.... yah... yah... k-kami juga ga tau! Sumpah! Kami lagi baca buku tadi di rumah pohon!" ucap Kastel gugup.
"Ya! Kami tadi lagi baca buku.... trus kami kesini... apa jangan-jangan bukunya ajaib?" ucap Suya.
"Ah! Apa mungkin kita ditarik karna baca buku itu?" Ucap Iyan tiba-tiba menyambung ucapan Suya. "Coba kalian ingat-ingat deh, tadi kita lagi buka halaman pertama, disana ada gambar benda langit seperti yang ada di jendela itu!" ucap Iyan sambil menunjuk jendela di depannya.
"Hah? Masa bisa gitu sih, berarti bener dong apa kata Suya? Kita ditarik karna buku ajaib?" balas Kastel merasa aneh. "Masa bisa gitu sih... aneh banget tiba-tiba bisa kesini."
"Buku?" ucap anak itu penasaran. "Buku apa yang kalian maksud?" tanyanya pada mereka bertiga.
"Itu... buku tentang luar angkasa, harusnya buku itu ikut juga ga sih?" ucap Suya. "Mana yah buku itu..."
"Itu... buku itu! Disana!" tunjuk Iyan pada buku di bawah hewan agung itu. Buku berwarna merah itu menyala mengeluarkan cahaya terang. 'Aneh... buku itu ternyata bisa nyala coba.... Buku apaan yang bisa nyala.' Pikir Iyan.
Hewan agung membawa buku itu ke tangan si anak. Si anak pun memeriksa buku itu dengan hati-hati. Sampai dia menemukan nama penulis di buku itu. Wangli.
"Ah! Ini buku buatan Wangli! Buku ini udah musnah di seluruh Galaxy Novalis! Darimana kalian mendapatkannya? Ini bukan buku biasa tau!" ucap anak itu dengan semangat.
"Wangli? Bukan buku biasa?" ucap Iyan dengan heran. "Itu buku tentang planet biasa kan?"
"Bukan! Ini itu buku portal kemana saja. Portal dari buku ini tergantung seri nya, ada portal ke dunia laut, dunia bintang, dunia makanan, dan masih banyak portal-portal lainnya. Tapi sayang karna Wangli sudah lama meninggal membuat buku ini tidak ada kelanjutannya. Buku-buku nya pun tiba-tiba menghilang. Kalo ada yang tersisa harganya akan sangat mahal." jelas anak itu dengan menggebu-gebu.
"Aha! Pantesan!" ucap Kastel tiba-tiba dan menggerak-gerakkan tubuhnya dengan riang membuat Iyan dan Suya ikut bergerak.
"Aduh... duhh.... Kastellll..." ucap Iyan dan Suya meringis kesulitan akibat gerakan tiba-tiba itu.
"Dengar deh dengar.... kita bisa kesini karna buku itu! Buku itu portal menuju tempat ini! Karna judulnya planet maka kita ada di pesawat ini! Jadi......" ucap Kastel cepat dan bersemangat.
"Jadi...?" tanya Suya bingung dan memiringkan kepalanya.
"Jadi kita bukan pembajak angkasa!" ucap Iyan dengan semangat. "Sekarang lepaskan kami... kamu tau kan kami ga sengaja masuk ke sini karna buku itu." ucap Iyan.
Si anak itu yang masih sibuk dengan buku di tangan kemudian menatap mereka.
"Oke baiklah... kalian memang tidak sengaja datang kesini karna buku ini. Maka akan aku lepaskan, Sika, ayo lepaskan mereka." ucap anak itu pada sang hewan agung.
"Hm? Apa kamu yakin? Ayolah... kenapa harus aku juga yang melakukannya." ucap hewan ajaib itu malas, tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan si anak.
Setelah mereka bertiga dilepaskan dari ikatan mereka pun berdiri di hadapan si anak.
"Duh.. kan gini enak, daritadi dong." ucap Suya setelah dilepaskan.
Iyan yang sudah berdiri mendekati anak itu, "Kenalin aku Iyan dari planet Mibu kota Jupi." ucap Iyan sambil mengulurkan tangannya.
Anak itu melihat uluran tangan Iyan. Dia pun berdiri dan meraih uluran tangan Iyan.
"Sena, dari planet Esmer Galaksi Novalis." jawab anak sang anak. "Hm, maaf tidak mendengar penjelasan kalian tadi, akhir-akhir ini angkasa tidak aman, banyak pembajak yang menyerang penjelajah." jelasnya sambil minta maaf dengan rasa bersalah.
"Tak apa, kami tau, kamu juga pasti kaget ada orang asing di pesawat mu." ucap Iyan memahami tindakan Sena. "Ini Kastel, dan yang pakai baju biru itu Suya." lanjutnya.
"Ah ya, halo.. maafkan kekasaran ku tadi, ini Sika hewan agung ku." jawab Sena dengan ramah.
"Oh hai~ hewan agung itu apa?" tanya Kastel dengan penasaran, "Kenapa dia bisa bicara?"
"Apa itu robot? Aneh banget." celetuk Suya.
"Enak aja! Aku ini hewan yang agung langka hanya ada satu dari jutaan hewan di alam semesta." balas hewan agung yang bernama Sika.
"Dari tempat kami berasal tidak ada hewan agung, hanya hewan biasa." Tanya Iyan.
"Hewan agung adalah hewan yang berevolusi mengikuti perubahan zaman. Kemungkinan tempat kalian adalah tempat yang aman jadi belum ada evolusi hewan. Supaya menunjang kehidupannya, hewan pun ikut berubah mengikuti zamannya. Karna tempat kami cukup keras untuk bisa hidup, maka hewan maupun manusia harus bisa berubah mengikuti zaman." jelas Sena panjang lebar.
"Wahh... hebat sekali. Kalo begitu, apa kamu tau cara kita kembali ke planet Mibu?" tanya Iyan.
"Hm.... Aku kurang tau banyak sih, menurut orang yang baca buku dari Wangli, buku ini sangat ajaib dan penuh kejutan. Menurut rumor, saat Wangli masih hidup buku ini mudah digunakan, tapi saat dia meninggal sulit sekali mengendalikan buku ini. Makanya pemerintah menarik semua buku ini dan semua tentang bukunya hanyalah cerita dongeng. Aku juga baru pertama kali liat buku ini secara langsung." jelas Sena.
"Pasti tempat kamu berasal sangat canggih yah? Sampai-sampai bisa bikin buku portal." ucap Kastel.
"Ohooo, apa banyak robot di planet mu?" tanya Suya tiba-tiba.
"Ck.... Sekarang bukan itu yang harus ditanyakan, apa kamu tau cara agar kami kembali?" ucap Iyan dengan penuh harap.
"Hmm... mari kita cari tau dulu di komputer.. Untuk sekarang kalian istirahat aja dulu." ucap Sena berjalan ke arah komputernya.
Sementara Suya berusaha menyentuh Sika yang terbang disampingnya.
"Ayolah kawan, kenapa tangan mu tidak bisa diam. Aku ini hewan agung, bukan mainan yang bisa kamu sentuh se-enaknya!" balas Sika dengan sedikit kesal menjauh dari Suya.
"Suya hentikan itu, dia tidak suka kamu sentuh, meski dia hewan, dia juga makhluk hidup dan punya perasaan, apalagi dia bisa bicara." ucap Kastel yang gerah melihat pertengkaran mereka.
"Hei! Memang aku makhluk hidup, tapi kenapa kamu kayak ejek aku bisa bicara yah." Balas Sika. Mereka bertiga sibuk berdebat, sementara Iyan mendekati Sena dan mulai berdiri disampingnya.
"Kamu sedang apa diluar angkasa sendirian? Dimana keluarga mu?" tanya Iyan tiba-tiba.
Sena yang sedang fokus pun menjawab, "Oh, sekarang aku sedang menjelajah dan memeriksa Galaxy Milky Way. Ini adalah tugas ilmiah di planet ku, biasanya anak-anak akan dibiarkan pergi sendiri ditemani hewan ajaib untuk melakukan tugas perjalanan ilmiah." balas Sena santai.
"Tugas ilmiah? Biarin anak kecil sendirian di angkasa sama hewan agung?" tanya Iyan kaget dan hampir menjerit.
"Hm? Yah.... Ini hal biasa dan merupakan tradisi." balasnya.
"Bukannya bahaya? Apalagi tadi itu apa... pembajak angkasa. Apa keluarga mu tidak khawatir?" tanya Iyan lagi.
"Ah, yah.... mereka tidak khawatir. Mereka ada di pesawat lain mengikuti di belakang, biasanya gitu sih. Kadang mereka juga kesini kok. Sekarang aku sedang keluar dari pesawat utama untuk menjelajah sendiri, nanti jika tugas selesai, aku akan kembali ke pesawat utama kok. Tenang, mereka udah pasang pelacak di pesawat ini." ucap Sena santai.
"Ketemu... ini dia caranya." ucap Senan membuat ketiga makhluk di belakang berbalik dan berjalan ke samping Sena.
"Untuk bisa kembali dari tempat penjelajahan buku portal karya Wangli..... yang harus dilakukan adalah..... " baca Sena di komputernya.
"Apa.. apa... ayo cepat dong...." ucap Suya tak sabar.
Mata Sena melotot membaca petunjuk disana. "Kalian yang tersedot ke dalam portal harus menjelajah sendiri sampai menemukan setiap isi halaman buku, setiap satu perjalanan terisi kalian bisa kembali. Jika kalian ingin mengetahui akhir cerita dari buku itu kalian harus menyelesaikan seluruh perjalanan sesuai dengan bab-nya." ucap Sena pelan.
"Hm? Apa itu artinya?" tanya Suya tidak mengerti.
"Mungkin maksudnya kita harus menjelajahi tempat ini?" ucap Kastel tidak yakin.
"Hm.... masuk akal. Mungkin buku ini bukan hanya portal, tapi juga buku petualangan langsung yang membuatnya sangat terkenal." Ucap Iyan.
"Jadi?" tanya Suya. "Kita harus apa sekarang?"
Iyan melihat ke arah Sena, membuat Kastel dan Suya mengikuti tatapannya.
"Sekarang.... kita harus ikut menjelajah bersama Sena..." ucap Iyan dramatis melihat ke arah Sena dan Sika yang sedang berusaha membuka halaman buku itu dengan susah payah.
TBC

Komentar
Posting Komentar