Perjalanan Di Angkasa: Dimana Kita (part 1)




Di suatu planet bernama Mibu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Iyan. 


Iyan tinggal di kota terbesar di planet Mibu. Mibu adalah salah satu planet dari jutaan planet di alam semesta. Para ahli bilang jika planet Mibu mirip seperti planet yang disebut 'Bumi' di dalam buku dongeng. Tetapi mereka adalah dua planet yang berbeda. Bumi dalam dongeng disebutkan sebagai tempat manusia tinggal dan peradaban di sana masih sangatlah kuno. Sementara Mibu adalah planet yang dihuni miliaran manusia dan peradabannya jauh lebih modern daripada Bumi. 


Kota tempat Iyan tinggal bernama Esmer dari negara Jupi. 


Iyan tinggal bersama ibu, ayah, dan kakak perempuan-nya. Setiap hari, Iyan bermain, belajar, berimajinasi, dan melakukan banyak kegiatan menarik. Iyan memiliki teman dekat bernama Kastel dan Suya. 


Mereka bertiga selalu bertemu dan bermain di taman dekat rumah. Di taman itu banyak sekali permainan, seperti perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, dan yang paling Iyan sukai, yaitu rumah pohon!


Rumah pohon itu sudah ada sejak dulu, mereka selalu bermain disana. Agar rumah pohon nya tetap bagus, anak-anak di kompleks rumah Iyan selalu merawatnya. Selain mereka bertiga, anak-anak disana juga suka bermain di rumah pohon itu. Mereka semua menyebut rumah pohon itu sebagai markas rahasia. 


Hari itu, setelah pulang sekolah dari TK Galaxy, Iyan, Kastel, dan Suya memutuskan untuk berkumpul di rumah pohon seperti biasa. Setelah ganti baju dan makan siang. Iyan pun mulai keluar dari rumah, tak lupa Iyan berpamitan dulu pada ibunya. 


"Bu! Pergi main dulu di taman... dah!" Ucap iyan pada ibunya yang sedang memasak.


"Hati-hati, Jangan pulang terlalu sore." balas ibu iyan.


"Ok bu." Iyan pun dengan cepat keluar dari rumahnya. Taman itu hanya 3 rumah dari rumah Iyan.


Setelah sampai, Iyan langsung memanjat naik ke rumah pohon. Belum ada siapapun. Biasanya, jam segini anak-anak yang lebih besar dari Iyan masih sekolah. Sementara yang lainnya masih di rumah. Sambil menunggu yang lainnya, Iyan melihat lemari buku yang ada di rumah pohon.


Lemari buku itu disimpan disana oleh para orang tua karna tau kalo anak-anak kompleks senang bermain di rumah pohon. Setelah itu, setiap anak selalu menyimpan buku disana. Jadi, mereka bisa saling berbagi dan bertukar buku menarik dan membacanya bersama-sama di rumah pohon. 


Iyan mendekati lemari itu dan melihat ada satu buku yang menarik perhatiannya. Iyan menarik buku itu dari lemari dan membaca judulnya, "Perjalanan Antariksa."


Wow, Iyan begitu kagum saat membaca judul buku itu. 


Iyan membuka halaman pertama, disana terlihat gambar langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. 


Ada banyak planet, bintang, meteor, dan benda luar angkasa lain. Warnanya pun begitu indah, seperti di dunia lain. Saat akan membuka halaman selanjutnya, suara Suya dan Kastel.


"Iyan!!!" teriak Suya.


"Hei... iyann..." Kastel ikut berteriak.


Karena Iyan yang tidak menjawab, mereka mendekat dan mengguncang-guncang badan Iyan. Iyan yang diguncang tersadar dari lamunannya dan melihat mereka.


"Apa ih, stop stop, aku pusing." ucap Iyan.


"Hehehehe, abisnya kamu ga jawab sih waktu dipanggil, ngapain sih?" ucap Suya, "Kita loh udah disini dari tadi." lanjutnya diikuti anggukan oleh Kastel.


"Wah masa? Kok aku ga denger, eh lihat deh... buku ini bagus banget!" ucap Iyan mengalihkan perhatiannya pada buku itu lagi. Hal itu membuat Suya dan Kastel duduk di sampingnya, melihat buku yang di pegang Iyan.


"Buku apa? kok kamu kayak fokus banget ga bisa diganggu." tanya Kastel heran.


"Hm? Ah ini buku luar angkasa yah? Kemarin aku liat Kak Yui bawain buku ini...." celetuk Suya sambil duduk dengan kaki terlipat.


"Wah? Ini punya Kak Yui? Pantesan bukunya bagus." ucap Iyan, "Liat deh halaman pertama aja udah keren banget gambarnya." lanjutnya sambil memperlihatkan halaman pertama itu pada Suya dan Kastel.


Mereka bertiga pun mulai melihat gambar di halaman pertama. Mereka begitu fokus dan antusias melihat gambar itu.


Terdengar hembusan angin kencang disana. Tapi mereka tidak sadar karna terlarut dalam gambar disana.


Iyan membalikkan halaman selanjutnya, judul halaman selanjutnya adalah Milky Way Tata Surya Kita. Digambar sana ada gugus bintang yang menyatu membentuk sebuah jalan seperti tumpahan susu. Warnanya pun begitu bersinar di antara gelapnya langit malam.


Saat akan membaca lebih lanjut, halaman buku itu tidak bisa di buka. Heh? pikir Iyan, kenapa buku ini susah di buka? Masa cuman satu halaman saja. Iyan pun mengalihkan tatapannya pada Kastel dan Suya yang juga sama-sama bingung.


Saat itulah mereka baru sadar jika tempat itu berbeda, bukan rumah pohon lagi. 


"Wahh!" teriak Kastel. "Dimana ini?" ujarnya dengan bingung, Suya dan Iyan yang mendengar jeritannya pun lantas melihat ke sekeliling. Mereka seperti berada di sebuah kantor, banyak mesin berbunyi, ada jendela besar, tapi kenapa ada kemudi jika ini kantor? Mereka tidak paham.


Mereka bertiga mulai berdiri dan mendekati jendela besar itu.


"Dimana kita? Apa ini?" tanya Kastel.

Iyan menyadari jika di luar jendela itu gelap. Saat sudah di depan jendela itu, Iyan sadar jika hal yang ada di luar adalah ruang angkasa yang mereka lihat dari buku tadi, karna disana terlihat gugus Milky Way Tata Surya seperti yang ada dalam buku.


"Hei? Apa mungkin kita ada di luar angkasa?" ucap Iyan. Kastel dan Suya yang mendengar pun kaget.

"Hah? Masa sih, kan kita tadi di rumah pohon, kamu bohong deh." jawab Suya.


"Iya, masa kita disini, mimpi kali, sini aku cubit kamu." saut Suya sembari mencubit pipi Iyan.


"Aw!" jerit Iyan sambil menjauhkan tangan Suya dari pipinya. "Sakit tau!"


Saat mereka masih kebingungan, pintu di belakang mereka terbuka, masuklah seorang anak laki-laki dengan pakaian yang berbeda dari mereka dengan hewan aneh terbang mengikutnya di belakang. Anak tersebut berhenti saat melihat tiga makhluk asing menyusup ke kapalnya.


"Siapa Kalian!" Teriak anak itu pada mereka bertiga dan bersiap akan menyerang mereka. Hewan di belakangnya yang terbang itu mulai menunjukkan taringnya dan siap akan melompat pada mereka.


Mereka bertiga dengan cepat berbalik dan melihat ke arah suara terdengar.


Iyan, menelan ludahnya dengan susah. 'Apa ini mimpi?' pikir Iyan dalam hati.



TBC










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Antariksa: Siapa Dia? (Part 2)

Ratu Kecil